Aku mulai terbiasa dengan tulisan kasar itu, aku mulai terbiasa dengan makian yang seakan membunuhku. Aku menangis, tapi tanpa airmata. Lalu dimana airmataku? Yaa air mata jatuh dihatiku, aku memendam segala rasa sakitku. Bukan karna aku bodoh, tapi aku hanya mengalah demi hubungan kita. Dan umur pun sudah cukup untuk tidak seperti kanak-kanak lagi. Disini bukan dimana bisa sebagai pemenang. tapi bagaimana bisa mempertahankan hubungan. Dan aku belum temukan sosokmu disitu.
Lalu aku bisa apa dengan semua rasa sakitku? Ingin saja aku marah, tetapi harus kutahan. Sering kali aku cemburu, namun harus kupendam. Aku tak bisa mengungkapkan, karna dengan banyaknya coletahanku membuatmu pusing. Bukan hanya karna ocehanku namun juga karna hubungan kita yang kau anggap tak ada artinya.
Kadang kau menjadi sosok yang sangat aku takutkan, dengan tulisan kasar itu, dengan makian yang spontan keluar dari bibirmu. Entah harus bagaimana aku jelaskan, aku hanya bisa memendam, tak ada selain itu, kau begitu bearti, bahkan sangat bearti.
Kita sudah berjalan sangat jauh, rasanya sayang sekali untuk kita kembali kegaris awal, jadi sebaiknya kita teruskan saja sayang, sampai nafas tak bisa menghirup, sampai tangan kita tak bisa menyentuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar