Jumat, 27 Desember 2013
sayang pernahkah?
Sayang kau pernahkah berada diposisiku? Mencintai namun batin teriris, merindu tapi jadi sembilu. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Kau sangat berbeda, tak seperti yang pertama kali ku kenal, sangat baik, sangat pengertian dan perhatian. Kau selalu ingin dimengerti selalu ingin aku yang jadi penengah dalam hubungan kita, aku siapa mu sayang? Bukan kah kau selalu katakan cinta? Lalu mengapa kau mencintaiku dengan salah, dengan cara yang berbeda?
Selasa, 22 Oktober 2013
Kita sudah berjalan sangat jauh
Aku mulai terbiasa dengan tulisan kasar itu, aku mulai terbiasa dengan makian yang seakan membunuhku. Aku menangis, tapi tanpa airmata. Lalu dimana airmataku? Yaa air mata jatuh dihatiku, aku memendam segala rasa sakitku. Bukan karna aku bodoh, tapi aku hanya mengalah demi hubungan kita. Dan umur pun sudah cukup untuk tidak seperti kanak-kanak lagi. Disini bukan dimana bisa sebagai pemenang. tapi bagaimana bisa mempertahankan hubungan. Dan aku belum temukan sosokmu disitu.
Lalu aku bisa apa dengan semua rasa sakitku? Ingin saja aku marah, tetapi harus kutahan. Sering kali aku cemburu, namun harus kupendam. Aku tak bisa mengungkapkan, karna dengan banyaknya coletahanku membuatmu pusing. Bukan hanya karna ocehanku namun juga karna hubungan kita yang kau anggap tak ada artinya.
Kadang kau menjadi sosok yang sangat aku takutkan, dengan tulisan kasar itu, dengan makian yang spontan keluar dari bibirmu. Entah harus bagaimana aku jelaskan, aku hanya bisa memendam, tak ada selain itu, kau begitu bearti, bahkan sangat bearti.
Kita sudah berjalan sangat jauh, rasanya sayang sekali untuk kita kembali kegaris awal, jadi sebaiknya kita teruskan saja sayang, sampai nafas tak bisa menghirup, sampai tangan kita tak bisa menyentuh.
Lalu aku bisa apa dengan semua rasa sakitku? Ingin saja aku marah, tetapi harus kutahan. Sering kali aku cemburu, namun harus kupendam. Aku tak bisa mengungkapkan, karna dengan banyaknya coletahanku membuatmu pusing. Bukan hanya karna ocehanku namun juga karna hubungan kita yang kau anggap tak ada artinya.
Kadang kau menjadi sosok yang sangat aku takutkan, dengan tulisan kasar itu, dengan makian yang spontan keluar dari bibirmu. Entah harus bagaimana aku jelaskan, aku hanya bisa memendam, tak ada selain itu, kau begitu bearti, bahkan sangat bearti.
Kita sudah berjalan sangat jauh, rasanya sayang sekali untuk kita kembali kegaris awal, jadi sebaiknya kita teruskan saja sayang, sampai nafas tak bisa menghirup, sampai tangan kita tak bisa menyentuh.
Senin, 21 Oktober 2013
Mengapa aku terlalu takut pada perpisahan?
Mengapa aku terlalu takut pada perpisahan? Mengapa kata-kata itu seakan membunuhku dengan cepat? Lalu mengapa kau terlalu mudah mengucapkan selamat tinggal? Bahkan dulu pertama bertemu kita sangat menikmati setiap detik pertemuan kita. Kini berbeda, kau malah suka dengan kata selamat tinggal, seolah kau tak punya perasaan, tak bisa merasakan. Coba kau pikirkan sejenak, mengapa aku bertahan ditengah luka yang kau tumpahi cuka. Betapa perihnya? Coba bayangkan sayang. Bagaimana kalau kita berganti posisi? Kau yang cinta mati, dan aku yang tak peduli! Nah bagaimana? Kau sanggup? Tidakkan!
Kau begitu luar biasa, kau dapat mengubahku seperti bonekamu, kau perlakukan sesukamu, tapi bukan itu inti masalahnya sayang, aku hanya ingin kau perjuangan, ingin kau banggakan, ingin kau nomor satukan dihatimu, itu saja. Tak bisakah? Sangat sulitkah dibanding dengan tugas matematikamu? Sudahlah, aku hanya ingin sedikit pengertianmu.
Bukan karna kau tidak perhatian, kau sangat perhatian sayang, kau benar-benar baik. Kau juga pintar memberiku pelajaran, dari rasa sakit, kebahagian, aku banyak belajar darimu. Aku juga sangat mencintai setiap airmata yang jatuh untukmu. Menikmati semua rasa sakit yang kau beri. Aku belajar dengan air mata, kau merubahku menjadi wanita yang tegar, walau dengan airmata aku harus berdiri, menghapus luka sendiri, dan sekarang aku mulai terbiasa dengan rasa sakit.
Lalu aku tetap bersyukur, karna setiap detik bersamamu adalah hal yang begitu ajaib ridho..
Sabtu, 12 Oktober 2013
Terimakasih untuk kau yang telah datang dan jangan pergi lagi
Terimakasih untuk kau yang telah datang dan jangan pergi lagi. Kumohon untuk kali ini, jangan lagi ada yang tersakiti, cukup kita saling mencintai hingga menemukan pelangi, bukan mendung lagi.
Aku tak tahu harus menulis apa lagi, semua telah kembali dalam pelukan, terimakasih sayang, terimakasih tuhan..
Aku tak tahu harus menulis apa lagi, semua telah kembali dalam pelukan, terimakasih sayang, terimakasih tuhan..
Selasa, 08 Oktober 2013
Kembali
Semua sangat sulit dideskripsikan. Hubungan tanpa kejelasan, tanpa ikatan tapi terikat, tanpa menyatu tetapi satu. Ini dunia yang tidak kuketahui. Semua buram tak terlihat. Dunia seolah olah mempermainkanku, kamu semakin membodoh bodohiku. Aku masih saja percaya dengan bualanmu, semua terlalu munafik, Sayang. Hanya kejelasan saja, kau harus tegas dengan ini, kau lelaki sayang, tegaslah dalam memilih.
Sampai kapan kepalsuan ini? Sampai kapan aku menunggu. Semua terlalu bodoh, coba kau bayangkan, sangat muak! Mengerti? Apa yang kau pertahan lagi dengan hubungan yang terlalu banyak pemain itu? Sudah hentikan saja, lepaskan. Disini ada aku, coba lihat sayang. Apa hatimu mati hingga kau tak bisa rasakan hanya aku satu-satunya yang bisa mencintaimu dengan utuh.
Buka matamu dan lihat, pasang telingamu dan dengar, hanya itu, kau tak perlu kesana kesini untuk mencari yang terbaik, tak perlu. Sayang, dimana letak hati yang dulu? Apa harus menunggu lagi? Apa harus hujan deras lagi baru pelangi hah? Lalu kapan bahagia yang kau janjikan? Kapan pelangi yang kita nantikan? Ayo jawab, Sayang. Ini sangat sulit, tidak mudah dijalani. Sedangkan kau bisa bersenang senang, mengumbar sayang, mengumbar kata cintamu tanpa memikirkan perasanku. Kau sangat tega, bahkan mungkin tak punya hati. Sejak kapan aku bisa kehilangan kamu? Sejak kapan aku bisa kehilangan oksigenku?
Sayang, sudahi semua permainanmu. Kembali kepelukanku, sekarang..
Sampai kapan kepalsuan ini? Sampai kapan aku menunggu. Semua terlalu bodoh, coba kau bayangkan, sangat muak! Mengerti? Apa yang kau pertahan lagi dengan hubungan yang terlalu banyak pemain itu? Sudah hentikan saja, lepaskan. Disini ada aku, coba lihat sayang. Apa hatimu mati hingga kau tak bisa rasakan hanya aku satu-satunya yang bisa mencintaimu dengan utuh.
Buka matamu dan lihat, pasang telingamu dan dengar, hanya itu, kau tak perlu kesana kesini untuk mencari yang terbaik, tak perlu. Sayang, dimana letak hati yang dulu? Apa harus menunggu lagi? Apa harus hujan deras lagi baru pelangi hah? Lalu kapan bahagia yang kau janjikan? Kapan pelangi yang kita nantikan? Ayo jawab, Sayang. Ini sangat sulit, tidak mudah dijalani. Sedangkan kau bisa bersenang senang, mengumbar sayang, mengumbar kata cintamu tanpa memikirkan perasanku. Kau sangat tega, bahkan mungkin tak punya hati. Sejak kapan aku bisa kehilangan kamu? Sejak kapan aku bisa kehilangan oksigenku?
Sayang, sudahi semua permainanmu. Kembali kepelukanku, sekarang..
Senin, 07 Oktober 2013
Sekalipun cinta dengan air mata
Aku sudah berjanji takkan menangis. Tidak hanya sesak, tapi penuh. sangat penuh hingga aku tak bisa bernafas, sangat penuh hingga aku terus menggigit bibirku mengurangi rasa sakit. Sangat sesak hingga aku tak bisa melihat disekitarku. Hingga kepenuhan sesak itu menjadi sebuah luka. Luka? Ya tahu bagaimana rasanya?
Ingin pergi tapi tak bisa, ingin berlari tapi tak pernah berpindah tempat, ingin menangis tapi air mata sudah kering, ingin berteriak tapi tak ada suara yang keluar, ingin memukul takut sakit, ingin mengakhiri namun rumit. Tak tahu apa yang bisa diperbuat, sesak yang semakin dalam tak juga ingin berhenti. Ingin memeluk, tak ada yang dipeluk. Rasa sakit itu akhirnya mendorong untuk menyakiti dirinya sendiri.
Aku hanya menginginkan sebuah cinta apa adanya, aku hanya ingin merasakan cinta yang nyata tanpa perlu aku mencari makna itu sendiri. Sekalipun cinta yang kupunya hanya berurai air mata, aku akan tetap dengan senyum menyambut keagungannya.
Ingin pergi tapi tak bisa, ingin berlari tapi tak pernah berpindah tempat, ingin menangis tapi air mata sudah kering, ingin berteriak tapi tak ada suara yang keluar, ingin memukul takut sakit, ingin mengakhiri namun rumit. Tak tahu apa yang bisa diperbuat, sesak yang semakin dalam tak juga ingin berhenti. Ingin memeluk, tak ada yang dipeluk. Rasa sakit itu akhirnya mendorong untuk menyakiti dirinya sendiri.
Aku hanya menginginkan sebuah cinta apa adanya, aku hanya ingin merasakan cinta yang nyata tanpa perlu aku mencari makna itu sendiri. Sekalipun cinta yang kupunya hanya berurai air mata, aku akan tetap dengan senyum menyambut keagungannya.
Minggu, 06 Oktober 2013
Malam terasa berbeda, status tak lagi sama
Malam terasa berbeda, status tak lagi sama. Tapi rasa dihatiku masih saja ada. Hujan tiba tiba deras, dingin menusuk hingga ketulang, peluk hangat yang dulu masih terasa, dirimu tak benar benar pergi, kamu masih disisiku, tapi tidak kekasihku. Lalu harus ku sebut apa? Entahlah sulit kujelaskan. Hari hari kita masih sama sayang , semua masih indah bukan? Tapi hatiku kamu pernah tahu? Tidak kan.
Kita masih sama sama berjalan, kita masih saling berpegangan tangan, status mungkin bagimu tak perlu, tapi sedangkan aku? Aku ingin kejelasan, aku tidak ingin kau permainkan, Sayang. Aku tak tahu, bagaimana lagi caraku harus ungkapkan, aku terlalu pengecut didepanmu, aku hanya gunakan senyumku, membuat semua orang didekatku tertipu, mereka tak pernah tahu hatiku berteriak teriak meminta tolong, tak sanggup, tak mampu, tapi harus berdiri sendiri, hapus luka sendiri. Jatuh, berusaha lagi, disia siakan bangkit lagi.
Cinta memang butuh perjuangan, walau dihancurkan berkali kali, walau dicampakkan berkali kali.
Kita masih sama sama berjalan, kita masih saling berpegangan tangan, status mungkin bagimu tak perlu, tapi sedangkan aku? Aku ingin kejelasan, aku tidak ingin kau permainkan, Sayang. Aku tak tahu, bagaimana lagi caraku harus ungkapkan, aku terlalu pengecut didepanmu, aku hanya gunakan senyumku, membuat semua orang didekatku tertipu, mereka tak pernah tahu hatiku berteriak teriak meminta tolong, tak sanggup, tak mampu, tapi harus berdiri sendiri, hapus luka sendiri. Jatuh, berusaha lagi, disia siakan bangkit lagi.
Cinta memang butuh perjuangan, walau dihancurkan berkali kali, walau dicampakkan berkali kali.
Sosok kakak terbaik yang pernah aku kenal, cukup terimakasih
Hallo kak, dulu aku ingat kita sempat berbagi lo, aku dengan kisahku, kamu dengan kisahmu. Ini bisa dibilang saling peduli. Kamu adalah sosok kakak terbaik yang pernah aku kenal. Aku juga tak habis fikir, Kak. Ini terlalu tega, ini terlalu sakit. Hahaha. Mungkin aku terlalu menutupi perasaanku, lalu bukan kah dulu aku sudah sering bercerita tentang Si Ganteng itu kak? Ya lucu memang. Kadang aku tertawa geli menahan airmata ini. Kak, kamu pernah tau rasanya diKhianti oleh seorang Kakak yang aku anggap terbaik, yang selalu mendengar dan memberi saran untukku? Yang mensupportku dalam keadaan aku rapuh.
Sebenarnya apa yang harus disalahkan disini? Kamu aku atau dia? Atau mungkin perasaan? Ah, aku sangat muak, aku benci keadaan bodoh ini, Kak. Mungkin dunia terlalu kejam, dunia terlalu munafik yang membuat manusia jadi tak punya perasaan, tak bisa merasakan. Aku tak tahu harus apa, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa aku harus merelakan? Merelakan tidak akan mudah, ya tidak akan pernah mudah, Kak. Sangat sakit, bahkan teriris.
Kak, kalau aku boleh jujur? Aku hanya ingin dia kembali, hmm. Bodohnya aku, sudahlah. Mungkin aku hanya berani menulis tanpa mengungkapkan. Aku kuat, yaa sangat kuat. Terimakasih, cukup..
Sebenarnya apa yang harus disalahkan disini? Kamu aku atau dia? Atau mungkin perasaan? Ah, aku sangat muak, aku benci keadaan bodoh ini, Kak. Mungkin dunia terlalu kejam, dunia terlalu munafik yang membuat manusia jadi tak punya perasaan, tak bisa merasakan. Aku tak tahu harus apa, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa aku harus merelakan? Merelakan tidak akan mudah, ya tidak akan pernah mudah, Kak. Sangat sakit, bahkan teriris.
Kak, kalau aku boleh jujur? Aku hanya ingin dia kembali, hmm. Bodohnya aku, sudahlah. Mungkin aku hanya berani menulis tanpa mengungkapkan. Aku kuat, yaa sangat kuat. Terimakasih, cukup..
Bertahanku diketidak pekaanmu
Kau membuatku jadi ingin menulis. Ntah karna sebab sakitku yang terlalu ini. Bahkan aku sebagai pelarian tak berhak berharap banyak, selain menunggumu untuk kembali pulang. Aku sudah berbiasa dengan rasa sakit, aku mulai jatuh cinta dengan air mata selama ini. Aku masih saja belum mengerti jalan pikirinmu, apa kurangnya kedewasaan? Apa kurang pengertian? Aku sangat muak dengan keadaan yang seakan-akan menusuk ku dari belakang. Aku banyak belajar dari hari-hari yang kau ciptakan , dari air mata yang selalu kau sebabkan.
Kita masih bisa saja bertemu, dalam do'a bahkan dalam peluk. Tapi aku hanya ingin kejelasan, aku hanya ingin kau pertahankan. Lalu bagaimana dengan kekasih barumu? Dan aku bisa apa dalam hal ini? Apa jalan yang aku pilih ini salah? Aku hanya ingin terus mencoba mempertahankan kita. Hubungan yang berjalan sudah hampir 20 bulan ini membuatku jadi semakin rapuh, namun aku tak bisa mengembalikan waktu dulu seperti belum mengenalmu.
Aku masih terlihat baik-baik saja dimatamu, aku masih saja menikmati hari-hari yang kau beri, mungkin kita memang tak pantas untuk dipisahkan, Sayang. Seperti sabtu malam itu, aku benar-benar rasakan kehangatan, kasih sayang didalamnya. Yang aku minta disini hanya kejelasan, tapi sayang aku tak bisa ungkapkan. Aku bodoh, aku tolol, bibir ku kelu tak bisa tegas untuk ini, lalu sampai kapan? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bingung sayang, tolong jawab aku!
Sekarang aku hanya bisa diam, mengungkap hanya lewat tulisan, berharap kau membaca tulisanku.
Kita masih bisa saja bertemu, dalam do'a bahkan dalam peluk. Tapi aku hanya ingin kejelasan, aku hanya ingin kau pertahankan. Lalu bagaimana dengan kekasih barumu? Dan aku bisa apa dalam hal ini? Apa jalan yang aku pilih ini salah? Aku hanya ingin terus mencoba mempertahankan kita. Hubungan yang berjalan sudah hampir 20 bulan ini membuatku jadi semakin rapuh, namun aku tak bisa mengembalikan waktu dulu seperti belum mengenalmu.
Aku masih terlihat baik-baik saja dimatamu, aku masih saja menikmati hari-hari yang kau beri, mungkin kita memang tak pantas untuk dipisahkan, Sayang. Seperti sabtu malam itu, aku benar-benar rasakan kehangatan, kasih sayang didalamnya. Yang aku minta disini hanya kejelasan, tapi sayang aku tak bisa ungkapkan. Aku bodoh, aku tolol, bibir ku kelu tak bisa tegas untuk ini, lalu sampai kapan? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bingung sayang, tolong jawab aku!
Sekarang aku hanya bisa diam, mengungkap hanya lewat tulisan, berharap kau membaca tulisanku.
Dengar aku, Tuhan
Tuhan.. dengar aku, aku lelah dengan drama yang aku tak tau darimana asal ceritanya, dan entah darimana sebabnya. Dia sudah dengan kekasih barunya, lalu aku? Aku masih saja dengan rasa sakitku, masih saja dengan mendungku. Yang ku inginkan hanya bahagia, tak lebih dari itu, mengapa terlalu sulit? Mengapa terlalu sakit?
Ceritaku masih saja sama, topiknya masih saja dia. Tak mengerti, benar-benar tak mengerti, aku terlalu diperbodoh dengan rasa cintaku. Aku hanya terlalu mudah untuk disakiti olehnya. Apa salahku? Apa salahmu? Mengapa harus berpisah? Mengapa harus luka baru lagi? Kisahnya masih saja sama "meninggalkanku demi wanita lain" . Tuhan, apa sakit selama ini tidak membuatmu yakin kalau memang aku pantas mendapatkan kebahagian? Apa sabarku selama ini tak membuatmu berhenti memberiku pelajaran?
Tolong kali ini mengerti tuhan, Aku tentu saja menangis, dadaku sesak ketikaku tahu dia bisa menggantikanku dengan hitungan jam, yaaa hanya dengan hitungan jam. Semua begitu serba tiba-tiba, kurasa kesalahku tidak terlalu besar, hanya saja keegoisan dan ketidak pekaannya.
Tuhan.. jagalah kebahagiannya untukku. Kabulkan jalannya untuk memenuhi janji-janjinya. Aku memang tak perlu meratap, ini sudah harus kujalani, walau duka, walau dengan air mata.
Kembali kecerita awal, aku hanya ingin bahagia. Tuhan.
Ceritaku masih saja sama, topiknya masih saja dia. Tak mengerti, benar-benar tak mengerti, aku terlalu diperbodoh dengan rasa cintaku. Aku hanya terlalu mudah untuk disakiti olehnya. Apa salahku? Apa salahmu? Mengapa harus berpisah? Mengapa harus luka baru lagi? Kisahnya masih saja sama "meninggalkanku demi wanita lain" . Tuhan, apa sakit selama ini tidak membuatmu yakin kalau memang aku pantas mendapatkan kebahagian? Apa sabarku selama ini tak membuatmu berhenti memberiku pelajaran?
Tolong kali ini mengerti tuhan, Aku tentu saja menangis, dadaku sesak ketikaku tahu dia bisa menggantikanku dengan hitungan jam, yaaa hanya dengan hitungan jam. Semua begitu serba tiba-tiba, kurasa kesalahku tidak terlalu besar, hanya saja keegoisan dan ketidak pekaannya.
Tuhan.. jagalah kebahagiannya untukku. Kabulkan jalannya untuk memenuhi janji-janjinya. Aku memang tak perlu meratap, ini sudah harus kujalani, walau duka, walau dengan air mata.
Kembali kecerita awal, aku hanya ingin bahagia. Tuhan.
Sabtu, 05 Oktober 2013
Mungkin
Mungkin aku sudah lelah dengan ketidak pekaanmu dengan perasaan dan rasa sakit selama ini. Entah dimana letak hati yang dulu yang selalu aku banggakan. Kau begitu berbeda tak seperti lelaki yang dulu ku kenal sangat mengerti dan penyanyang itu. Sekarang kau mulai tak ingin tau tentang hatiku, dan sibuk menjalani hari dengan kekasih barumu. Memang ini bukan kepergian, kita hanya sama- sama ingin memperbaik cara kita menjalani hubungan yang dulu.
Aku hanya tak ingin ada kebohongan, tak ingin ada lagi rasa sakit. Aku ingin semua baik- baik saja, seperti satu tahun belakang dulu. Dulu, memang tak ada luka, tak ada air mata. Semua dulu kurasa sangat mudah dijalani, walau bahkan sempat hubungan kita tidak direstui, tapi dengan kekuatan cinta, kita bertahan sejauh ini.
Begitu banyak cobaan, begitu banyak yang kita lalui, semua disebabkan entah karna apa, entah karna salahku ? Atau mungkin salahku ? Entah lah, terlalu banyak pengusik.
Aku hanya tak ingin ada kebohongan, tak ingin ada lagi rasa sakit. Aku ingin semua baik- baik saja, seperti satu tahun belakang dulu. Dulu, memang tak ada luka, tak ada air mata. Semua dulu kurasa sangat mudah dijalani, walau bahkan sempat hubungan kita tidak direstui, tapi dengan kekuatan cinta, kita bertahan sejauh ini.
Begitu banyak cobaan, begitu banyak yang kita lalui, semua disebabkan entah karna apa, entah karna salahku ? Atau mungkin salahku ? Entah lah, terlalu banyak pengusik.
Langganan:
Postingan (Atom)